Senin, 27 April 2015

sakeco, kesenian khas Sumbawa

BAB I
Pendahuluan

                   I.            Latar Belakang
Setiap daerah pasti memiliki ciri khas masing-masing akan kebudayaan baik dalam segi kesenian maupun adat istiadat. Kesenian dapat dijadikan sebagai media komunikasi dan dakwah pada masa penyebaran agama Islam di berbagai daerah di Indonesia. Kebanyakan kesenian ini merupakan adaptasi kesenian dari Bangsa Arab yang merupakan Bangsa asal agama islam diajarkan. Para utusan dari Bangsa Arab disebar ke seluruh penjuru dunia untuk menyebarkan agama Islam yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW, kemudian diteruskan oleh para sahabatnya yang berstatus sebagai Khalifah sepeninggal Nabi Muhammad SAW.
Para utusan ini kemudian menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru dunia, dari Negara yang telah berbudaya tinggi pada masa itu, seperti Negara-negara Eropa, Amerika dan sederet Negara maju lainnya yang pada masa itu Masuknya Islam ke Eropa telah dimulai dari sejak berabad-abad yang lalu. Diawali oleh penaklukan negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian melalui Sisilia, serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu. Kehadiran islam di Eropa kemudian berlanjut dari imigrasi umat Islam dari negara-negara Islam ke Eropa pasca Perang Dunia Kedua. Kehadiran Islam di Eropa sebenarnya telah dimulai sejak berabad abad yang lalu. Islam mempunyai pengaruh yang kuat saat itu di Eropa, di buktikan dengan banyaknya buku-buku dan peninggalan sejarah islam di sana. Tetapi rintangan yang dihadapi juga tidak sedikit, mengingat bangsa Eropa yang merupakan Mayoritas penganut agaman Kristiani.
Selain Negara yang memiliki kebudayaan tinggi saat itu seperti Eropa, penyebaran agama islam juga menyentuh daerah-daerah yang masih terisolir dan menjadi mangsa empuk bangsa Eropa untuk mengeruk kekayaan dengan cara menjajah daerah kecil tersebut. Daerah-daerah kecil itu contohnya adalah cikal bakal dari Negara Indonesia, karna Indonesia terdiri atas rangkaian pulau-pulau yang yang disekat oleh selat-selat kecil. Walaupun merupakan daerah yang terisolir, namun rakyat Indonesia pada saat itu telah memiliki kebudayaan local yang tinggi, salah satunya dalam bidang kesenian. Utusan arab melihat potensi ini kemudian mengasimilasikan teori penyebaran agama islam dengan kesenian yang dimiliki oleh rakyat, tujuannya agar rakyat lebih cepat menerima pesan atau ajaran yang disampaikan.
Hingga utusan penyebar agama islam ini sampai di pulau Sumbawa yang merupakan salah satu pulau yang ada dirangkaian kepulauan Nusa Tenggara. Para utusan ini tentu bukanlah utusan arab langsung, tapi merupakan para wali dari pulau Jawa yang telah mempelajari secara mendalam dari setiap seluk beluk agama islam, baik dari utusan Arab yang datang ke daerahnya, maupun dengan keinginan sendiri untuk pergi ke Negara Arab untuk langsung mempelajarinya. Para utusan ini mempelajari pola kebudayaan masyarakat Sumbawa dan mendapatkan cela melalui jalur kesenian, maka terciptalah Sakeco atau Ratib yang merupakan seni memainkan alat music sembari bernyanyi yang cikal bakalnya telah ada di Negara Arab (Mekkah). Sakeco awalnya menggunakan bahasa arab yang berisi pujian dan Shalawat pada nabi besar Muhammad SAW. Kemudian berasimilasi dengan kebudayaan Sumbawa, sehingga sakeco yang kita kenal sampai hari ini sudah menggunakan Bahasa Sumbawa, dan liriknya sudah bermacam-macam, bukan Cuma bidang keagamaan, tetapi juga pendidikan, budaya, pariwisata daerah, kekayaan alam, pergaulan muda-mudi dan masih banyak lagi tema lainnya.

                II.            Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari Sakeco?
2.      Bagaimana sejarah sakeco
3.      Apa saja Unsur-unsur kebudayaan dari sakeco?
4.      Apa saja nilai-nilai kebudayaan dari Sakeco?

             III.            Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih dalah tentang salah satu pola kebudayaan, yaitu Sakeco, unsure-unsur yang terkandung di dalamnya dan nilai-nilai budaya  apa saja yang ada dalam kesenian Sakeco ini.

BAB II
ISI
A.    Pengertian Sakeco

Sakeco merupakan kesenian yang banyak di gemari oleh orang sumbawa, alatnya berupa dua buah rabana dan di mainkan oleh dua orang seniman penabuh dengan membawa syair berbahasa sumbawa yang di namakan lawas. Alat yang di gunakan itu terbuat dari kayu kamboja (kayu jepun) yang salah satu bagiannya di tutup dengan kulit kambing yang telah di keringkan dan di ikat dengan rotan dan kawat.
Pada dasarnya sakeco ini berasal dari ratib, ratib ini berasal dari bahasa Arab yang artinya hiburan yang pada umumnya di mainkan oleh 4 orang tetapi sekarang hanya di mainkan oleh 2 orang saja dengan menggunkaan alat musiknya yang di sebut dengan rabana,serta di mainkan sambil membawakan lagu-lagu berbahasa arab yang di ambil dari kitab HADRAH dan mengandung puji-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya.

B.     Sejarah Sakeco

Ratib awalnya masuk ke sumbawa ini di bawa oleh orang islam yang berasal dari Hindia belakang yaitu Bujarab dekat negeri Arab yaitu Mekkah, ratib ini mulai masuk pada, ratib ini berasal dari bahasa Arab yang artinya hiburan yang pada umumnya di mainkan oleh 4 orang tetapi sekarang hanya di mainkan oleh 2 orang saja.
Ratib awalnya masuk ke sumbawa ini di bawa oleh orang islam yang berasal dari hindia belakang yaitu Bujarab dekat negeri Arab yaitu Mekkah, ratib ini mulai masuk pada zaman pemerintahan kerajaan hindu yaitu kerajaan Majapahit di mana para seniman sumbawa selalu bertolak dari tradisi lama dalam membabarkan karyanya untuk di olah dan di padukan dengan unsur seni yang datangnya belakangan.
Melalui seni inilah orang islam berhasil masuk ke daerah sumbawa dan nenyebarkan agama islam sehingga membuat kerajaan hindu runtuh. Dengan menetapnya orang islam yang membawa ratib tersebut membuat ratib berkembang menjadi sakeco dengan cara di padukan dengan syair-syair yang berbahasa sumbawa yang biasa di sebut lawas.
Pada umumnya sakeco ini di bawakan pada acara pengantin, khitanan, dan upacara-upacara adat dan dahulu orang menjadikn sakeco ini sebagai mata pencaharian,tetapi sekarang hanya di gunakan sebagai hiburan saja.

C.    Unsur-unsur Kebudayaan pada Sakeco
Unsur pada suatu kebudayaan sangatlah penting, karna merupakan struktur yang akan membuat suatu kebudayaan menjadi dinamis, dan akan terus mengalami kemajuan dalam setiap unsur tersebut, karna setiap unsur akan mewakili lapisan-lapisan masyarakat yang menganut kebudayaan tersebut. Adapun unsur-unsur kebudayaan dari Sakeco adalah sebagai berikut:
a.       Sistem religi dan upacara keagamaan
Sakeco masuk ke Sumbawa berawal dari salah satu taktik para utusan atau wali untuk menyebarkan agama islam. Maka lirik-lirik yang terkandung di dalam sakeco ini sudah tentu berisi Do’a-do’a pada Allah SWT dan Shalawat pada Nabi Muhammad SAW. Maka sakeco ini akan sangat diaggap sacral lantaran lirik yang dimilikinya, sehingga untuk menampilkan sakeco tidaklah di sembaran tempat, melainkan pada upacara keagamaan, perkawinan, khitanan dan acara adat lainnya.

b.      Sistem dan organisasi kemasyarakatan
Dengan diadakannya sakeco di upacara keagamaan, perkawinan serta khitanan, itu menandakan bahwa sakeco telah memiliki sistem tersendiri dalam masyarakat, ditandai dengan adanya pengorganisasian sakeco sebagai perangkat seni yang dimiliki oleh masyarakat Sumbawa, sehingga bisa menjadi identitas dari masyarakat Sumbawa.

c.       Sistem Pengetahuan
Sakeco merupakan media penyampai pesan dari utusan yang akan menyampaikan ajaran-ajaran islam kepada masyarakat, sehingga didalam liriknya harus terdapat pengetahuan tentang agama islam. Serta di anjurkan kata-kata yang dipakai untuk merangkai lirik haruslah mudah dipahami sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima oleh para pendengarnya.

d.      Bahasa
Terjadi asimilasi dan akulturasi bahasa dalam penerapan sakeco. Karna pada awalnya bahasa yang digunakan dalam sakeco yang awalnya bernama Ratib menggunakan bahasa Arab, maka dalam perkembangannya untuk menyatu dengan masyarakat Sumbawa, maka bahasa yang digunakanpun harus menggunakan bahasa Sumbawa. Karna mayoritas masyarakat Sumbawa belum begitu mengerti dengan bahasa Arab maupun Bahasa Indonesia, maka opsi paling tepat adalah menggunakan bahasa Sumbawa. Selain agar masyarakat tertarik, diharapkan juga agar mengerti materi yang disampaikan dapat dimengerti dengan mudah. Adapun contoh lirik Sakeco sebagai berikut:
Lirik Lagu Sakeco Ksb
Tema: Pariwisata Daerah


Hadirin ku Yang mulia
Harapan
Kami mohon tenang
Ku bada hader pang ika

Ade lebih kurang
Sia menong
Sia maaf tu gamana
Kami sate tu karante

Ka balong pariwisata
Alam indah indonesia
Pangeang tu ranto kita
Tu kemas jadi sakeco

Balong dadi sumbang saran
Bakalong jangka banete
Lamen balong
Sila ete

Ara lenge pina genang
Lamen lenge na sakenang
Mana sakendi nonda su
Balong sanenge na dunung

Buah belo tu karante siong
Tu puji wisata
kanyong leng bangsa sendiri
Konyang nyata si tu gita

Nonda bola tu intane
Baka yam indah menawan
Gelombong laut nan biru
Ombak putih bekejaran

Menghempas ke pinggir pante
Bagaikan berdendang ria
Menyambut parawisata
Mengucap salam bahagia

Welcome To Indonesia
Selamat
Datang
Saudaraku . . . .

Menan si lukna sia e. .  kita . . . .
Tu Sumbawa barat
No turoa ketinggalan
Bangkitlah membangun diri

Berdikit-dikit sia e . .
Akhirnya menjadi bukit
Ba to pang dalam turintis

Pantai maluk ke jalenga
Sadadi objek wisata
Umak barampek bagulung
Maras tu maen salancar

Poto batu tampar belo
Tu panto umak bajoget
Belum lagi poto balad
Kaling tu sukur bae mo

Saling dukung saling sadu
Lema dapat detu hajat
Sai tau noto basukur
Bakan nonda ade tu rasa

Dadi bote bau balang
Yang di kejar tidak dapat
Yang di kandung kececeran
Ompa we . . nonda kalako

Ada kuasa ku gama Tuhan
Ka tau ksb
Tu uker mara la layang
Tu anjong sa tengah langit

Beang tingi bangsa mula
Ada ka lako ku bonga
Belo umer ku gama na
Ku iring doa harapan

Selamat gama KSB
Mares gama sa pina leng
Lema bau de tu hajat
Dadi sopo kenyataan

Biarkan anjing menggonggong
Kapila tetap berlalu
Ia sa tulus pimpin bangsa
Nene ramenong bagita

O  . . . . sarea rama peno
Ku ajak sia intane
Laga tu bersatu padu
Lema bau daerah ta  . . . .
Sumbawa Barat Berjaya.







e.       Kesenian
Sakeco merupakan kesenian yang merupakan seni tarik suara yang di lakukan oleh 2 sampai 4 orang bahkan lebih yang diiringi dengan instrument Rebana. Sakeco menjadi taktis utusan penyebar agama islam pada masyarakat yang menyukai kesenian tarik suara yang diiringi musik. Selain seni tarik suara, dalam sakeco juga ditampilkan kesenian berbusana, yang tak lain adalah busana khas masyarakat Sumbawa yang dilengkapi dengan Saputobo yang di kenakan di kepala.

f.       Sistem Mata Pencaharian Hidup
Sekelompok orang yang bisa melantunkan lirik-lirik sakeco, sambil memainkan alat music rebana, akan sangat dibutuhkan jika ada suatu keluarga dalam masyarakat Sumbawa akan melakukan hajatan seperti pernikahan atau khitanan. Maka dari itu mereka akan mengundang sekelompok orang yang bisa bersekeco atau mungkin sakeco merupakan bidang kesenian yang telah digelutu secara professional oleh sekelompok orang tersebut. Maka untuk mengundan grup sakeco ini, keluarga yang akan mengadakan hajatan haruslah memberi imbalan yang setimpal bagi para pemain sakeco, sehingga sebagai pemain sakeco, peluang untuk mendapat mata pencaharian hidup baik sebagai pemasukan utama maupun sampingan akan terbuka lebar seiring dengan intensitas penyelenggaran upacara keagamaan maupun adat seperti perkawinan dan khitanan (besunat).

g.      Sistem Teknologi dan Peralatan.
Sakeco mengalami peningkatan baik dari segi teknologi maupun peralatan. Dari segi teknoligi misalnya, penyelenggaraan sakeco telah dilengkapi dengan pengeras suara, sehingga jarak sakeco agar terdengar dari jarak yang cukup jauh bisa terwujud, sehingga masyarakat yang ingin mendengan isi sakeco tidak harus berada di dekat acara, melainkan bisa mendengarnya ditempat tertentu, selain itu sakeco ini telah ada dalam bentuk rekaman atau kaset, sehingga kita bisa mendengarnya kapanpun dan dimanapun. Kemudian dari segi peralatan yang digunakan, bukan hanya rebana saja, tetapi telah menggunakan seruling daan di modoifikasi juga dengan gendang (rebana dalam bentuk lebih besar).


D.    Nilai-nilai Kebudayaan dalam Sakeco
Suatu kebudayaan haruslah memiliki nilai, karna nilai yang dikandungnya itu dapat menjadikan suatu budaya itu memiliki kelebihan dibandingkan dengan budaya lainnya. Begitu pula dengan sakeco yang memiliki nilai-nilai yang dapat menjadi kelebihannya disbanding dengan budaya yang lain. Saya dapat mengklasifikasikan nilai-nilai kebudayaan pada sakeco dikarenakan telah mengklasifikasikan terlebih dahulu unsur-unsur kebudayaan dalam sakeco. Adapun nilai-nilai kebudayaan dalam sakeco adalah sebagai berikut:
a.       Sosial
Sakeco merupakan media penyampai pesan, dari para utusan yang menyebarkan agama islam pada para penduduk Sumbawa, sehingga ketika proses penyampaian tersebut terjadi interaksi sosial dalam masyarakat. Ditambah juga dengan adanya sakeco sampai saat ini, dikarenakan sakeco sudah diorganisasi sedemikian rupa agar tetap eksis di dalam masyarakat dan tidak tenggelam oleh kesenian yang lebih modern, walaupun kesenian-kesenian itu memiliki misi yang sama seperti sakeco. Bahasa juga memiliki peranan penting dalam Sakeco, karna bahasa adalah media utama yang digunakan para pelakon sakeco dalam menyampaikan pesan, maka digunakanlah bahasa asli Sumbawa agar masyarakat tertarik dan mudah mengerti dengan pesan dalam sakeco.



b.      Religi
Sakeco dari awal memang merupakan media dakwah para utusan untuk menyampaikan ajaran agama islam. Jadi tentu saja unsure religi atau keagamaan sangat kental dalam sakeco ini. Dakwah sangatlah penting bagi setiap agama, bukan dari agama islam saja, karna dakwah merupakan penyampaian baik secara lisan maupun tulisan tentang suatu ajaran agama kepada para penganutnya ataupun calon penganutnya. Tentunya para penyampai pesan ini haruslah orang yang mengerti tentang agama dan bukannya orang yang menebak-nebak sehingga bisa menyesatkan orang banyak. Begitu pula dengan sakeco, orang yang akan menyampaikan pesan bukan hanya mengerti, tetapi juga harus mempunyai keahlian melantunkan nyanyian yang diiringi dengan musik.

c.       Pendidikan
Sakeco digunakan sebagai media untuk memperoleh pengetahuan tentang agama, yang pada awal kemunculannya lebih banyak menampilkan tema tentang ajaran agama, tetapi sakeco juga mengikuti perkembangan zaman, maka tema-tema yang ditampilkan juga bervariatif, seperti tentang pendidikan, kekayaan alam, pariwisata daerah, sehingga dengan adanya sakeco ini bisa menjadi sarana pendidikan pada para pendengarnya untuk lebih mengetahui tentang daerah Sumbawa

d.      Ekonomi
Jika ada suatu keluarga yang akan melaksanakan hajatan, baik itu pernikahan maupun khitanan, pihak keluarga kan berusaha untuk mengundang para pemain sakeco dan tentunya akan menyiapkan imbalan atas jasa para pemain sakeco ini. Karna lirik yang mereka mainkan bukan sembarang lirik, lirik tersebut menggambarkan perasaan keluarga yang mengadakan hajatan dan juga sebagai penyemarak acara, karna dengan mengundang sakeco, maka hajatan menjadi ramai karna banyaknya masyarakat yang tertarik pada sakeco selain dari menghormati undangan pemilik hajatan. Maka sakeco ini bisa menjadi ladang bisnis bagi para pemain sakeco, dan diharapkan dengan adanya imbalan tersebut bisa menambah semangat para pemain sakeco untuk terus berkarya dan menciptakan karya aransemen terbaru.
Selain itu, Sakeco juga bisa menambah pendapatan daerah, karna banyak pelancong baik local maupun interlokal yang tertarik menyaksikan sakeco sebagai suatu kesenian khas Sumbawa.















E.     Hasil Wawancara
Menurut bapak H. SARIRANG.H.H secara relistis perkembangan sakeco saat ini memang sangat menurun dan budaya seperti sakeco ini memang terancam punah karena adanya musik-musik modern, melihat kondisi masyarakat saat ini yang sangat mempopulerkan budaya-budaya luar di bandingkan dengan budaya mereka sendiri membuat semangat beliau untuk melakukan suatu usaha guna mengembangkan budaya tana samawa ini khususnya bidang yang di geluti kurang lebih 40 tahun ini.
Sebagai tokoh beliau akan melakukan usaha seperti memodifikasi lagu-lagu yang di ciptakan sesuai dengan perkembangan zaman,membuat isi atau cerita dalam syair itu berbeda-beda agar pendengar tidak bosan,serta akan mengadakan pentas seni yang bertema budaya-budaya sumbawa.

Awalnya beliau tidak berniat untuk mempelajari sakeco ini,karena di kampungnya banyak orang-orang yang mempelajari sekeco dan beliau hanya ikut-ikutan saja, dan lama-kelamaan beliau tertarik dengan sekeco ini karena di anggap asyik dan bagi beliau sekeco ini mempunyai keistimewaan tersendiri dengan syair-syairnya yang indah yang mengandung nasehat-nasehat.
Biasanya Beliau mendapatkan inspirasi untuk membuat syair-syair sekeco ini dari apa saja yang di lihat, ketika melihat sesuatu nantinya beliau akan merenungi sendiri dan timbullah pikirannya untuk membuat syair-syair sekeco tersebut seperti waktu beliau melihat anak muridnya sedang menghadapi ujian nasional terpikirlah oleh beliau untuk membuat syair sekeco tentang nasib anak muridnya.
Sakeco ini berbeda dengan lagu-lagu yang di bawakan oleh band-band atau bisa di sebut dengan musik modern, setiap baris sakeco memuat satu pokok bahasan,sedangkan lagu dari bait pertama sampai bait terakhir hanya memuat satu pokok bahasan, jadi jika terdapat sepuluh baris dalam sakeco maka memuat sepuluh pokok bahasan.
Menurut beliau dengan melihat perkembangan sakeco saat ini,seharusnya kita sebagai orang daerah sumbawa dan lebih jelasnya sebagai generasi muda lebih mengembangkan lagi budaya-budaya tana samawa ini, karena apabila tidak di lestarikan maka budaya tana samawa ini akan teracam punah,bukan semakin membanggakan atau mendewa-dewakan budaya-budaya luar. Padahal sebenarnya budaya kita seperti sakeco ini sangatlah berpotensi dan memiliki nilali yang tinggi.

Maka dari itu beliau memberi kesan terhadap sakeco ini yaitu sakeco ini harus di kembangkan karena selain kesenian sakeco juga dapat di jadikan nasehat-nasehat degan lagu-lagunya dan juga merupakan suatu sindiran halus untuk menuntun ke jalan yang lebih baik. Sakeco ini biasanya berisi tentang nasehat, kisah percintaan, cerita rakyat, dan lain sebagainya. Adapun sebagian judul sakeco karya beliau antara lain:
ü Pariwisata
ü Geliat kemutar telu I
ü Geliat kemutar telu II
ü Jati mandiri
ü Perpisahan
ü Sabalong samalewa
ü Pela gandong yaitu saat terjadi kekacauan di ambon dan pela gandong ini sebagai pengamannya
ü Dan lain-lain














BAB III
Penutup

a.       Kesimpulan
Sakeco merupakan kebudayaan asli Sumbawa, yang sekarang ini Sumbawa telah terbagi menjadi 2, yaitu Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat. Sakeco ini tetap menjadi bagian di dalam kedua daerah tersebut. Cuma yang membedakan adalah bahasanya, tetapi perbedaanya tidak terlalu signifikan dan juga logat yang berbeda. Sakeco tetap memegang misi awalnya sebagai penyampai pesan di dalam masyarakat Sumbawa. Adapun unsure yang terkandung dalam sakeco adalah Unsur religi dan upacara keagamaan, system dan organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan, bahasa, kesenian, system mata pencaharian hidup, serta system teknologi dan peralatan. Sedangkan untuk nilai yang terkandung didalamnya adalah nilai sosial, religi, pendidikan dan ekonomi.

b.      Saran
Sakeco merupakan seni budaya milik masyarakat Sumbawa, jadi sudah semestinya masyarakat Sumbawa harus menjaga kelestarian Sakeco ini, karna dewasa ini sakeco telah berada di ambang kepunahan menurut H. Sarirang, H.H yang merupakan tokoh yang telah menggeluti sakeco lebih dari 40 tahun, jadi beliau sangat mengerti tentang eksistensi sakeco hingga saat ini. Jadi tugas kita sebagai generasi muda haruslah melestarikan sakeco ini, mulai dari mengenalnya, menonton pagelarannya di acara-acara, dan mulai melakukan tindakan-tindakan nyata untuk melestarikannya dengan cara mempelajarinya, walaupun untuk memainkan sakeco ini memerlukan keterampila khusus. Tapi paling tidak kita menyukai seni khas daerah kita sendiri.




Daftar Pustaka





Tidak ada komentar:

Posting Komentar