BAB I
Pendahuluan
I.
Latar
Belakang
Setiap
daerah pasti memiliki ciri khas masing-masing akan kebudayaan baik dalam segi
kesenian maupun adat istiadat. Kesenian dapat dijadikan sebagai media
komunikasi dan dakwah pada masa penyebaran agama Islam di berbagai daerah di
Indonesia. Kebanyakan kesenian ini merupakan adaptasi kesenian dari Bangsa Arab
yang merupakan Bangsa asal agama islam diajarkan. Para utusan dari Bangsa Arab
disebar ke seluruh penjuru dunia untuk menyebarkan agama Islam yang diajarkan
oleh nabi Muhammad SAW, kemudian diteruskan oleh para sahabatnya yang berstatus
sebagai Khalifah sepeninggal Nabi Muhammad SAW.
Para
utusan ini kemudian menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru dunia, dari
Negara yang telah berbudaya tinggi pada masa itu, seperti Negara-negara Eropa,
Amerika dan sederet Negara maju lainnya yang pada masa itu Masuknya Islam ke Eropa telah dimulai dari sejak
berabad-abad yang lalu. Diawali oleh penaklukan negara Andalusia (756-1492) di
Semenanjung Iberia, dan kemudian melalui Sisilia, serta penguasaan wilayah
Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat
itu. Kehadiran islam di Eropa kemudian berlanjut dari imigrasi umat Islam dari
negara-negara Islam ke Eropa pasca Perang Dunia Kedua. Kehadiran Islam di Eropa
sebenarnya telah dimulai sejak berabad abad yang lalu. Islam mempunyai pengaruh
yang kuat saat itu di Eropa, di buktikan dengan banyaknya buku-buku dan
peninggalan sejarah islam di sana. Tetapi rintangan yang dihadapi juga tidak
sedikit, mengingat bangsa Eropa yang merupakan Mayoritas penganut agaman
Kristiani.
Selain
Negara yang memiliki kebudayaan tinggi saat itu seperti Eropa, penyebaran agama
islam juga menyentuh daerah-daerah yang masih terisolir dan menjadi mangsa
empuk bangsa Eropa untuk mengeruk kekayaan dengan cara menjajah daerah kecil
tersebut. Daerah-daerah kecil itu contohnya adalah cikal bakal dari Negara
Indonesia, karna Indonesia terdiri atas rangkaian pulau-pulau yang yang disekat
oleh selat-selat kecil. Walaupun merupakan daerah yang terisolir, namun rakyat
Indonesia pada saat itu telah memiliki kebudayaan local yang tinggi, salah
satunya dalam bidang kesenian. Utusan arab melihat potensi ini kemudian
mengasimilasikan teori penyebaran agama islam dengan kesenian yang dimiliki
oleh rakyat, tujuannya agar rakyat lebih cepat menerima pesan atau ajaran yang
disampaikan.
Hingga
utusan penyebar agama islam ini sampai di pulau Sumbawa yang merupakan salah
satu pulau yang ada dirangkaian kepulauan Nusa Tenggara. Para utusan ini tentu
bukanlah utusan arab langsung, tapi merupakan para wali dari pulau Jawa yang
telah mempelajari secara mendalam dari setiap seluk beluk agama islam, baik
dari utusan Arab yang datang ke daerahnya, maupun dengan keinginan sendiri
untuk pergi ke Negara Arab untuk langsung mempelajarinya. Para utusan ini
mempelajari pola kebudayaan masyarakat Sumbawa dan mendapatkan cela melalui
jalur kesenian, maka terciptalah Sakeco atau Ratib yang merupakan seni
memainkan alat music sembari bernyanyi yang cikal bakalnya telah ada di Negara Arab
(Mekkah). Sakeco awalnya menggunakan bahasa arab yang berisi pujian dan
Shalawat pada nabi besar Muhammad SAW. Kemudian berasimilasi dengan kebudayaan
Sumbawa, sehingga sakeco yang kita kenal sampai hari ini sudah menggunakan
Bahasa Sumbawa, dan liriknya sudah bermacam-macam, bukan Cuma bidang keagamaan,
tetapi juga pendidikan, budaya, pariwisata daerah, kekayaan alam, pergaulan
muda-mudi dan masih banyak lagi tema lainnya.
II.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian dari Sakeco?
2.
Bagaimana sejarah sakeco
3.
Apa saja Unsur-unsur kebudayaan dari
sakeco?
4.
Apa saja nilai-nilai kebudayaan dari
Sakeco?
III.
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
untuk mengetahui lebih dalah tentang salah satu pola kebudayaan, yaitu Sakeco,
unsure-unsur yang terkandung di dalamnya dan nilai-nilai budaya apa saja yang ada dalam kesenian Sakeco ini.
BAB
II
ISI
A. Pengertian Sakeco
Sakeco merupakan
kesenian yang banyak di gemari oleh orang sumbawa, alatnya berupa dua buah
rabana dan di mainkan oleh dua orang seniman penabuh dengan membawa syair
berbahasa sumbawa yang di namakan lawas. Alat yang di gunakan itu terbuat dari
kayu kamboja (kayu jepun) yang salah satu bagiannya di tutup dengan kulit
kambing yang telah di keringkan dan di ikat dengan rotan dan kawat.
Pada dasarnya sakeco
ini berasal dari ratib, ratib ini berasal dari bahasa Arab yang artinya hiburan
yang pada umumnya di mainkan oleh 4 orang tetapi sekarang hanya di mainkan oleh
2 orang saja dengan menggunkaan alat musiknya yang di sebut dengan rabana,serta
di mainkan sambil membawakan lagu-lagu berbahasa arab yang di ambil dari kitab
HADRAH dan mengandung puji-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya.
B.
Sejarah
Sakeco
Ratib awalnya masuk ke sumbawa ini
di bawa oleh orang islam yang berasal dari Hindia belakang yaitu Bujarab dekat
negeri Arab yaitu Mekkah, ratib ini mulai masuk pada, ratib ini berasal dari
bahasa Arab yang artinya hiburan yang pada umumnya di mainkan oleh 4 orang
tetapi sekarang hanya di mainkan oleh 2 orang saja.
Ratib awalnya masuk ke
sumbawa ini di bawa oleh orang islam yang berasal dari hindia belakang yaitu
Bujarab dekat negeri Arab yaitu Mekkah, ratib ini mulai masuk pada zaman
pemerintahan kerajaan hindu yaitu kerajaan Majapahit di mana para seniman
sumbawa selalu bertolak dari tradisi lama dalam membabarkan karyanya untuk di
olah dan di padukan dengan unsur seni yang datangnya belakangan.
Melalui seni inilah
orang islam berhasil masuk ke daerah sumbawa dan nenyebarkan agama islam
sehingga membuat kerajaan hindu runtuh. Dengan menetapnya orang islam yang membawa
ratib tersebut membuat ratib berkembang menjadi sakeco dengan cara di padukan
dengan syair-syair yang berbahasa sumbawa yang biasa di sebut lawas.
Pada umumnya sakeco ini
di bawakan pada acara pengantin, khitanan, dan upacara-upacara adat dan dahulu
orang menjadikn sakeco ini sebagai mata pencaharian,tetapi sekarang hanya di
gunakan sebagai hiburan saja.
C.
Unsur-unsur
Kebudayaan pada Sakeco
Unsur pada suatu
kebudayaan sangatlah penting, karna merupakan struktur yang akan membuat suatu
kebudayaan menjadi dinamis, dan akan terus mengalami kemajuan dalam setiap
unsur tersebut, karna setiap unsur akan mewakili lapisan-lapisan masyarakat
yang menganut kebudayaan tersebut. Adapun unsur-unsur kebudayaan dari Sakeco adalah
sebagai berikut:
a. Sistem
religi dan upacara keagamaan
Sakeco masuk ke Sumbawa
berawal dari salah satu taktik para utusan atau wali untuk menyebarkan agama
islam. Maka lirik-lirik yang terkandung di dalam sakeco ini sudah tentu berisi
Do’a-do’a pada Allah SWT dan Shalawat pada Nabi Muhammad SAW. Maka sakeco ini
akan sangat diaggap sacral lantaran lirik yang dimilikinya, sehingga untuk
menampilkan sakeco tidaklah di sembaran tempat, melainkan pada upacara
keagamaan, perkawinan, khitanan dan acara adat lainnya.
b. Sistem
dan organisasi kemasyarakatan
Dengan diadakannya
sakeco di upacara keagamaan, perkawinan serta khitanan, itu menandakan bahwa
sakeco telah memiliki sistem tersendiri dalam masyarakat, ditandai dengan
adanya pengorganisasian sakeco sebagai perangkat seni yang dimiliki oleh
masyarakat Sumbawa, sehingga bisa menjadi identitas dari masyarakat Sumbawa.
c. Sistem
Pengetahuan
Sakeco merupakan media
penyampai pesan dari utusan yang akan menyampaikan ajaran-ajaran islam kepada
masyarakat, sehingga didalam liriknya harus terdapat pengetahuan tentang agama
islam. Serta di anjurkan kata-kata yang dipakai untuk merangkai lirik haruslah
mudah dipahami sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima oleh para
pendengarnya.
d. Bahasa
Terjadi asimilasi dan
akulturasi bahasa dalam penerapan sakeco. Karna pada awalnya bahasa yang
digunakan dalam sakeco yang awalnya bernama Ratib menggunakan bahasa Arab, maka
dalam perkembangannya untuk menyatu dengan masyarakat Sumbawa, maka bahasa yang
digunakanpun harus menggunakan bahasa Sumbawa. Karna mayoritas masyarakat
Sumbawa belum begitu mengerti dengan bahasa Arab maupun Bahasa Indonesia, maka
opsi paling tepat adalah menggunakan bahasa Sumbawa. Selain agar masyarakat
tertarik, diharapkan juga agar mengerti materi yang disampaikan dapat
dimengerti dengan mudah. Adapun contoh lirik Sakeco sebagai berikut:
Lirik Lagu Sakeco Ksb
Tema: Pariwisata Daerah
Hadirin ku Yang
mulia
Harapan
Kami
mohon tenang
Ku
bada hader pang ika
Ade
lebih kurang
Sia
menong
Sia
maaf tu gamana
Kami
sate tu karante
Ka
balong pariwisata
Alam
indah indonesia
Pangeang
tu ranto kita
Tu
kemas jadi sakeco
Balong
dadi sumbang saran
Bakalong
jangka banete
Lamen
balong
Sila
ete
Ara
lenge pina genang
Lamen
lenge na sakenang
Mana
sakendi nonda su
Balong
sanenge na dunung
Buah
belo tu karante siong
Tu
puji wisata
kanyong
leng bangsa sendiri
Konyang
nyata si tu gita
Nonda
bola tu intane
Baka
yam indah menawan
Gelombong
laut nan biru
Ombak
putih bekejaran
Menghempas
ke pinggir pante
Bagaikan
berdendang ria
Menyambut
parawisata
Mengucap
salam bahagia
Welcome
To Indonesia
Selamat
Datang
Saudaraku
. . . .
Menan
si lukna sia e. . kita . . . .
Tu
Sumbawa barat
No
turoa ketinggalan
Bangkitlah
membangun diri
Berdikit-dikit
sia e . .
Akhirnya
menjadi bukit
Ba
to pang dalam turintis
Pantai
maluk ke jalenga
Sadadi
objek wisata
Umak
barampek bagulung
Maras
tu maen salancar
Poto
batu tampar belo
Tu
panto umak bajoget
Belum
lagi poto balad
Kaling
tu sukur bae mo
Saling
dukung saling sadu
Lema
dapat detu hajat
Sai
tau noto basukur
Bakan
nonda ade tu rasa
Dadi
bote bau balang
Yang
di kejar tidak dapat
Yang
di kandung kececeran
Ompa
we . . nonda kalako
Ada
kuasa ku gama Tuhan
Ka
tau ksb
Tu
uker mara la layang
Tu
anjong sa tengah langit
Beang
tingi bangsa mula
Ada
ka lako ku bonga
Belo
umer ku gama na
Ku
iring doa harapan
Selamat
gama KSB
Mares
gama sa pina leng
Lema
bau de tu hajat
Dadi
sopo kenyataan
Biarkan
anjing menggonggong
Kapila
tetap berlalu
Ia
sa tulus pimpin bangsa
Nene
ramenong bagita
O . . . . sarea rama peno
Ku
ajak sia intane
Laga
tu bersatu padu
Lema
bau daerah ta . . . .
Sumbawa
Barat Berjaya.
e. Kesenian
Sakeco merupakan kesenian
yang merupakan seni tarik suara yang di lakukan oleh 2 sampai 4 orang bahkan
lebih yang diiringi dengan instrument Rebana. Sakeco menjadi taktis utusan
penyebar agama islam pada masyarakat yang menyukai kesenian tarik suara yang
diiringi musik. Selain seni tarik suara, dalam sakeco juga ditampilkan kesenian
berbusana, yang tak lain adalah busana khas masyarakat Sumbawa yang dilengkapi
dengan Saputobo yang di kenakan di kepala.
f. Sistem
Mata Pencaharian Hidup
Sekelompok orang yang
bisa melantunkan lirik-lirik sakeco, sambil memainkan alat music rebana, akan
sangat dibutuhkan jika ada suatu keluarga dalam masyarakat Sumbawa akan
melakukan hajatan seperti pernikahan atau khitanan. Maka dari itu mereka akan mengundang
sekelompok orang yang bisa bersekeco atau mungkin sakeco merupakan bidang
kesenian yang telah digelutu secara professional oleh sekelompok orang
tersebut. Maka untuk mengundan grup sakeco ini, keluarga yang akan mengadakan
hajatan haruslah memberi imbalan yang setimpal bagi para pemain sakeco,
sehingga sebagai pemain sakeco, peluang untuk mendapat mata pencaharian hidup
baik sebagai pemasukan utama maupun sampingan akan terbuka lebar seiring dengan
intensitas penyelenggaran upacara keagamaan maupun adat seperti perkawinan dan
khitanan (besunat).
g. Sistem
Teknologi dan Peralatan.
Sakeco
mengalami peningkatan baik dari segi teknologi maupun peralatan. Dari segi
teknoligi misalnya, penyelenggaraan sakeco telah dilengkapi dengan pengeras
suara, sehingga jarak sakeco agar terdengar dari jarak yang cukup jauh bisa
terwujud, sehingga masyarakat yang ingin mendengan isi sakeco tidak harus
berada di dekat acara, melainkan bisa mendengarnya ditempat tertentu, selain
itu sakeco ini telah ada dalam bentuk rekaman atau kaset, sehingga kita bisa
mendengarnya kapanpun dan dimanapun. Kemudian dari segi peralatan yang
digunakan, bukan hanya rebana saja, tetapi telah menggunakan seruling daan di
modoifikasi juga dengan gendang (rebana dalam bentuk lebih besar).
D. Nilai-nilai Kebudayaan dalam Sakeco
Suatu kebudayaan
haruslah memiliki nilai, karna nilai yang dikandungnya itu dapat menjadikan
suatu budaya itu memiliki kelebihan dibandingkan dengan budaya lainnya. Begitu
pula dengan sakeco yang memiliki nilai-nilai yang dapat menjadi kelebihannya
disbanding dengan budaya yang lain. Saya dapat mengklasifikasikan nilai-nilai
kebudayaan pada sakeco dikarenakan telah mengklasifikasikan terlebih dahulu
unsur-unsur kebudayaan dalam sakeco. Adapun nilai-nilai kebudayaan dalam sakeco
adalah sebagai berikut:
a. Sosial
Sakeco merupakan media
penyampai pesan, dari para utusan yang menyebarkan agama islam pada para
penduduk Sumbawa, sehingga ketika proses penyampaian tersebut terjadi interaksi
sosial dalam masyarakat. Ditambah juga dengan adanya sakeco sampai saat ini,
dikarenakan sakeco sudah diorganisasi sedemikian rupa agar tetap eksis di dalam
masyarakat dan tidak tenggelam oleh kesenian yang lebih modern, walaupun
kesenian-kesenian itu memiliki misi yang sama seperti sakeco. Bahasa juga
memiliki peranan penting dalam Sakeco, karna bahasa adalah media utama yang
digunakan para pelakon sakeco dalam menyampaikan pesan, maka digunakanlah
bahasa asli Sumbawa agar masyarakat tertarik dan mudah mengerti dengan pesan
dalam sakeco.
b. Religi
Sakeco dari awal memang merupakan
media dakwah para utusan untuk menyampaikan ajaran agama islam. Jadi tentu saja
unsure religi atau keagamaan sangat kental dalam sakeco ini. Dakwah sangatlah
penting bagi setiap agama, bukan dari agama islam saja, karna dakwah merupakan
penyampaian baik secara lisan maupun tulisan tentang suatu ajaran agama kepada
para penganutnya ataupun calon penganutnya. Tentunya para penyampai pesan ini
haruslah orang yang mengerti tentang agama dan bukannya orang yang
menebak-nebak sehingga bisa menyesatkan orang banyak. Begitu pula dengan
sakeco, orang yang akan menyampaikan pesan bukan hanya mengerti, tetapi juga
harus mempunyai keahlian melantunkan nyanyian yang diiringi dengan musik.
c. Pendidikan
Sakeco digunakan
sebagai media untuk memperoleh pengetahuan tentang agama, yang pada awal
kemunculannya lebih banyak menampilkan tema tentang ajaran agama, tetapi sakeco
juga mengikuti perkembangan zaman, maka tema-tema yang ditampilkan juga
bervariatif, seperti tentang pendidikan, kekayaan alam, pariwisata daerah,
sehingga dengan adanya sakeco ini bisa menjadi sarana pendidikan pada para
pendengarnya untuk lebih mengetahui tentang daerah Sumbawa
d. Ekonomi
Jika ada suatu keluarga
yang akan melaksanakan hajatan, baik itu pernikahan maupun khitanan, pihak
keluarga kan berusaha untuk mengundang para pemain sakeco dan tentunya akan
menyiapkan imbalan atas jasa para pemain sakeco ini. Karna lirik yang mereka
mainkan bukan sembarang lirik, lirik tersebut menggambarkan perasaan keluarga
yang mengadakan hajatan dan juga sebagai penyemarak acara, karna dengan
mengundang sakeco, maka hajatan menjadi ramai karna banyaknya masyarakat yang
tertarik pada sakeco selain dari menghormati undangan pemilik hajatan. Maka
sakeco ini bisa menjadi ladang bisnis bagi para pemain sakeco, dan diharapkan
dengan adanya imbalan tersebut bisa menambah semangat para pemain sakeco untuk
terus berkarya dan menciptakan karya aransemen terbaru.
Selain itu, Sakeco juga bisa
menambah pendapatan daerah, karna banyak pelancong baik local maupun interlokal
yang tertarik menyaksikan sakeco sebagai suatu kesenian khas Sumbawa.
E. Hasil Wawancara
Menurut
bapak H. SARIRANG.H.H secara relistis perkembangan sakeco saat ini memang
sangat menurun dan budaya seperti sakeco ini memang terancam punah karena adanya
musik-musik modern, melihat kondisi masyarakat saat ini yang sangat
mempopulerkan budaya-budaya luar di bandingkan dengan budaya mereka sendiri
membuat semangat beliau untuk melakukan suatu usaha guna mengembangkan budaya
tana samawa ini khususnya bidang yang di geluti kurang lebih 40 tahun ini.
Sebagai
tokoh beliau akan melakukan usaha seperti memodifikasi lagu-lagu yang di
ciptakan sesuai dengan perkembangan zaman,membuat isi atau cerita dalam syair
itu berbeda-beda agar pendengar tidak bosan,serta akan mengadakan pentas seni
yang bertema budaya-budaya sumbawa.
Awalnya
beliau tidak berniat untuk mempelajari sakeco ini,karena di kampungnya banyak
orang-orang yang mempelajari sekeco dan beliau hanya ikut-ikutan saja, dan
lama-kelamaan beliau tertarik dengan sekeco ini karena di anggap asyik dan bagi
beliau sekeco ini mempunyai keistimewaan tersendiri dengan syair-syairnya yang
indah yang mengandung nasehat-nasehat.
Biasanya
Beliau mendapatkan inspirasi untuk membuat syair-syair sekeco ini dari apa saja
yang di lihat, ketika melihat sesuatu nantinya beliau akan merenungi sendiri
dan timbullah pikirannya untuk membuat syair-syair sekeco tersebut seperti
waktu beliau melihat anak muridnya sedang menghadapi ujian nasional terpikirlah
oleh beliau untuk membuat syair sekeco tentang nasib anak muridnya.
Sakeco
ini berbeda dengan lagu-lagu yang di bawakan oleh band-band atau bisa di sebut
dengan musik modern, setiap baris sakeco memuat satu pokok bahasan,sedangkan
lagu dari bait pertama sampai bait terakhir hanya memuat satu pokok bahasan,
jadi jika terdapat sepuluh baris dalam sakeco maka memuat sepuluh pokok
bahasan.
Menurut
beliau dengan melihat perkembangan sakeco saat ini,seharusnya kita sebagai
orang daerah sumbawa dan lebih jelasnya sebagai generasi muda lebih
mengembangkan lagi budaya-budaya tana samawa ini, karena apabila tidak di
lestarikan maka budaya tana samawa ini akan teracam punah,bukan semakin
membanggakan atau mendewa-dewakan budaya-budaya luar. Padahal sebenarnya budaya
kita seperti sakeco ini sangatlah berpotensi dan memiliki nilali yang tinggi.
Maka
dari itu beliau memberi kesan terhadap sakeco ini yaitu sakeco ini harus di
kembangkan karena selain kesenian sakeco juga dapat di jadikan nasehat-nasehat
degan lagu-lagunya dan juga merupakan suatu sindiran halus untuk menuntun ke
jalan yang lebih baik. Sakeco ini biasanya berisi tentang nasehat, kisah
percintaan, cerita rakyat, dan lain sebagainya. Adapun sebagian judul sakeco
karya beliau antara lain:
ü Pariwisata
ü Geliat
kemutar telu I
ü Geliat
kemutar telu II
ü Jati
mandiri
ü Perpisahan
ü Sabalong
samalewa
ü Pela
gandong yaitu saat terjadi kekacauan di ambon dan pela gandong ini sebagai
pengamannya
ü Dan
lain-lain
BAB
III
Penutup
a. Kesimpulan
Sakeco merupakan
kebudayaan asli Sumbawa, yang sekarang ini Sumbawa telah terbagi menjadi 2,
yaitu Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat. Sakeco ini tetap menjadi bagian di dalam
kedua daerah tersebut. Cuma yang membedakan adalah bahasanya, tetapi
perbedaanya tidak terlalu signifikan dan juga logat yang berbeda. Sakeco tetap
memegang misi awalnya sebagai penyampai pesan di dalam masyarakat Sumbawa.
Adapun unsure yang terkandung dalam sakeco adalah Unsur religi dan upacara
keagamaan, system dan organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan, bahasa,
kesenian, system mata pencaharian hidup, serta system teknologi dan peralatan.
Sedangkan untuk nilai yang terkandung didalamnya adalah nilai sosial, religi,
pendidikan dan ekonomi.
b. Saran
Sakeco merupakan seni
budaya milik masyarakat Sumbawa, jadi sudah semestinya masyarakat Sumbawa harus
menjaga kelestarian Sakeco ini, karna dewasa ini sakeco telah berada di ambang
kepunahan menurut H. Sarirang, H.H yang merupakan tokoh yang telah menggeluti
sakeco lebih dari 40 tahun, jadi beliau sangat mengerti tentang eksistensi
sakeco hingga saat ini. Jadi tugas kita sebagai generasi muda haruslah
melestarikan sakeco ini, mulai dari mengenalnya, menonton pagelarannya di
acara-acara, dan mulai melakukan tindakan-tindakan nyata untuk melestarikannya
dengan cara mempelajarinya, walaupun untuk memainkan sakeco ini memerlukan
keterampila khusus. Tapi paling tidak kita menyukai seni khas daerah kita
sendiri.
Daftar
Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar